Solo - Selain kemasyhuran lumpia dan bandeng prestonya, Semarang juga menyimpan kekayaan kuliner lawas lainnya. Salah satu yang paling ikonik dan melegenda di Kota Atlas ini adalah roti ganjel rel.
Istilah "ganjel rel" yang identik dengan elemen perkeretaapian memberikan daya pikat tersendiri bagi khazanah kuliner Semarang. Penamaan unik ini sebenarnya berakar dari era kolonial Belanda, di mana sejarahnya menyimpan potret kehidupan sosial dan budaya masyarakat kala itu.
Penasaran bagaimana transformasi roti ini dari masa ke masa? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini.
Mengenal Roti Ganjel Rel
Berdasarkan buku Khazanah Tata Boga Jawa Tengah karya Srie Julie Rachmawatie, roti ganjel rel merupakan kudapan berbentuk balok berwarna cokelat dengan hiasan wijen di permukaannya.
Karakteristik utamanya terletak pada tekstur yang padat serta aroma kayu manis yang kuat, sehingga menjadi favorit banyak orang. Nama "ganjel rel" sendiri muncul karena bentuknya yang keras dan bantat menyerupai bantalan rel kereta api.
Selain itu, masyarakat juga mengenalnya sebagai roti gambang karena kemiripannya dengan alat musik tradisional gambang.
Sejarah Singkat Roti Ganjel Rel
Sejarah roti ganjel rel berakar kuat pada masa kolonial abad ke-19, sebagaimana diulas oleh Rahma Danisa Eka Safitri dalam Jurnal Kajian Kebudayaan. Sejarawan Jongkie Tio memaparkan bahwa kehadiran roti ini bermula saat bangsa Belanda menetap di Indonesia dan memperkenalkan tradisi sarapan serta minum teh ala Barat.
Roti ini merupakan hasil akulturasi budaya, yang terinspirasi dari ontbijtkoek—kue rempah khas Belanda berbahan gandum hitam, cengkeh, jahe, dan kayu manis. Tekstur dan aroma rempah dari kue sarapan inilah yang kemudian diadaptasi oleh masyarakat Semarang menjadi roti ganjel rel.
Eksistensi Roti Ganjel Rel di Masa Sekarang
Warisan kuliner roti ganjel rel terus bertahan sejak era kolonial hingga hari ini, meski telah mengalami modifikasi bahan dasar. Jika dahulu dibuat dari tepung gaplek tanpa telur, kini resepnya lebih umum menggunakan tepung terigu dan telur.
Tradisi unik "rebutan ganjel rel" pun masih menjadi pemandangan ikonik dalam perayaan Dugderan di Semarang. Walaupun kini penjualnya mulai langka, Anda masih bisa menemukan kudapan legendaris ini di pasar tradisional seperti Pasar Johar. Demikian sekilas sejarah roti ganjel rel yang tetap melegenda.